Menulis Surat Resmi dan contoh surat resmi

Kamu sering menulis surat, bukan? Menulis surat termasuk salah satu keterampilan berbahasa.
Berdasarkan isinya, surat dibedakan atas surat pribadi, surat dinas, dan surat niaga. Surat pribadi berisi masalah pribadi penulis, baik yang ditujukan kepada perorangan maupun kepada instansi tertentu.
Surat dinas atau sering pula disebut surat resmi berisi masalah kedinasan, baik yang dibuat oleh perusahaan, organisasi pemerintah, maupun perorangan. Sedangkan surat niaga berisi masalah bisnis atau perniagaan.
Sekarang perhatikanlah surat berikut!

a. kop surat, 
b. nomor dan hal surat, 
c. tanggal surat, 
d. alamat tujuan, 
e. bagian pembuka surat,
f. bagian isi,
g. bagian penutup,
h. tanda tangan dan nama pengirim surat.

Pengertian Konjungsi dan macam-macam konjungsi

Konjungsi atau kata sambung atau kata hubung adalah kata untuk menghubungkan kata-kata, ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat dan sebagainya dan tidak untuk tujuan atau maksud lain
  1. Konjungsi Pertentangan
    Konjungsi pertentangan ialah konjungsi koordinatif yang bisa menghubungkan dua bagian kalimat yang sejajar dengan mempertentangkan kedua bagian itu.Biasanya pada bagian kedua menduduki posisi yang jauh lebih penting dari yang pertama, misalnya : tetapi, akan tetapi, melainkan, padahal, sebaliknya, sedangkan, dan juga namun.
  2. Konjungsi Temporal waktu
    Konjungsi waktu yang menjelaskan hubungan waktu diantara dua hal ataupun peristiwa. Kata-kata konjungsi temporal berikut ini bisa menjelaskan hubungan yang tak sederajat.
    Misalnya saja: apabila, bila, bilamana, hingga, demi, ketika, sambil, sampai, sebelum, sedari, sejak, semenjak, selama, sementara, setelah, seraya, waktu, sesudah, dan juga tatkala. Sementara konjungsi yang berikut ini menghubungkan dua bagian kalimat yang sudah sederajat, misalnya saja sebelumnya serta sesudahnya.
  3. Konjungsi Sebab atau kausalitas
    Konjungsi sebab yang menjelaskan bahwa sebuah peristiwa terjadi dikarenakan sebuah sebab tertentu. Apabila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk dari kalimat ialah akibatnya. Kata yang dipakai agar menyatakan hubungan sebab ialah sebab, sebab itu, karena, dan juga karena itu.
  4. Konjungsi Syarat atau kondisional
    Konjungsi syarat yang menjelaskan bahwa sebuah hal bisa terjadi bila syarat -syarat yang sudah disebutkan itu sudah dipenuhi. Kata kata yang menyatakan hubungan ini ialah jika, jikalau, asalkan, apabila, kalau, dan juga bilamana.
  5. Konjungsi Perbandingan
    Konjungsi perbandingan yang berfungsi menghubungkan dua hal dengan cara untuk membandingkan kedua hal itu. Kata-kata yang sering digunakan didalam konjungsi ini ialah sebagai, sebagaimana, bagai, seperti, bagaikan, ibarat, seakan-akan, umpama, dan juga daripada.
  6. Konjungsi Penegas atau menguatkan
    Konjungsi ini fungsinya untuk menegaskan ataupun meringkas sebuah bagian kalimat yang sudah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang sudah menyatakan rincian. Kata-kata yang termasuk didalam konjungsi ini ialah bahkan, apalagi, yakni, yaitu, misalnya, umpama, ringkasnya, dan juga akhirnya.
  7. Konjungsi Pembenaran atau konsesif
    Konjungsi pembenaran yakni sebuah konjungsi subordinatif yang bisa menghubungkan 2 hal menggunakan cara membenarkan ataupun mengakui sebuah hal, sementara menolak hal yang lain bisa ditandai oleh konjungsi tadi.
    Pembenaran dinyatakan didalam klausa utama atau induk kalimat, untuk penolakan yang dinyatakan didalam sebuah anak kalimat yang sudah didahului oleh konjungsi misalnya, meskipun, biarpun, walaupun, biar, sungguhpun, kendatipun, dan juga sekalipun.
  8. Konjungsi Pembatasan
    Konjungsi ini bisa menyatakan pembatasan kepada sesuatu hal ataupun dalam batas-batas yang dimana perbuatan bisa dikerjakan, misalnya kecuali, selain, serta asal.
  9. Konjungsi Aditif atau gabungan
    Konjungsi aditif (gabungan) ialah konjungsi koordinatif yang funsginya untuk menggabungkan dua kata, frasa, klausa, ataupun kalimat didalam kedudukan yang sederajat, misalnya saja : dan, lagi, lagi pula, dan juga serta.
  10. Konjungsi Disjungtif atau pilihan
    Konjungsi pilihan ialah konjungsi koordinatif yang bisa menghubungkan dua unsur yang sederajat yang memilih salah satu dari dua hal ataupun lebih, misalnya: atau, atau….atau, baik…baik…, maupun, dan juga entah…entah…
  11. Konjungsi Final atau tujuan
    Konjungsi tujuan ialah semacam konjungsi modalitas yang bisa menjelaskan maksud dan juga tujuan sebuah peristiwa, ataupun tindakan. Kata-kata yang biasa digunakan agar dapat menyatakan hubungan ini ialah : supaya, guna, untuk, dan juga agar.
  12. Konjungsi Akibat atau konsekutif
    Konjungsi akibat yang menjelaskan bahwa sebuah peristiwa terjadi akibat sebuah hal yang lainnya. Didalam hal ini anak kalimat ditandai dengan konjungsi yang menyatakan sebuah akibat, sedangkan peristiwanya dinyatakan didalam induk kalimat. Kata-kata yang digunakan agar bisa menandai konjungsi akibat ialah sehingga, sampai, dan akibatnya.
  13. Konjungsi Tak Bersyarat
    Kata penghubung tak bersyarat bisa menjelaskan bahwa sebuah hal bisa terjadi tanpa perlu terdapatnya syarat – syarat yang untuk dipenuhi. Kata – kata yang termasuk didalam konjungsi ini ialah walaupun, meskipun, dan biarpun.
  14. Konjungsi Korelatif
    Konjungsi korelatif ialah konjungsi yang menghubungkan 2 kata, frasa, ataupun klausa; serta kedua unsur itu mempunyai status sintaktis yang sama.
    Konjungsi korelatif yang terdiri atas 2 bagian yang sudah dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, ataupun klausa yang dihubungkan.
    Contoh : baik … maupun …, tetapi (…) juga …, (maupun) … tidak hanya …, apa(kah) … atau … jangankan …, demikian (rupa) … sehingga… pun ….
  15. Konjungsi Penjelas atau penetap
    Konjungsi penjelas fungsinya menghubungkan bagian kalimat yang terdahulu dengan perinciannya. Contoh dari kata didalam konjungsi ini ialah bahwa.
  16. Konjungsi Urutan
    Konjungsi ini yang menyatakan urutan sebuah hal. Kata yang termasuk didalam konjungsi ini ialah mula-mula, lalu, dan juga kemudian.

Menggunakan Imbuhan -me

Menggunakan Imbuhan -me 
Dalam bacaan ”Merapi Mulai Menggelegar” terdapat beberapa kata berimbuhan me-. Misalnya meletus, meluluhlantakkan, dan menggelegar.
Imbuhan me- berfungsi membentuk kata kerja aktif. Di antara ketiga kata kerja berimbuhan me- tersebut ada yang memerlukan kehadiran objek di belakangnya, ada pula yang tidak. Buktinya sebagai berikut.
  • Gunung Merapi sewaktu-waktu bisa meletus. (tidak memerlukan objek)
  • Letusan Gunung Merapi bisa meluluhlantakkan penduduk sekitarnya. (memerlukan objek)
  • Kemarin sekitar pukul 05.50 terdengar bunyi menggelegar. (tidak memerlukan objek).

Kata kerja berimbuhan me- yang memerlukan kehadiran objek di belakangnya dinamakan kata kerja aktif transitif. Sedangkan kata kerja berimbuhan meyang tidak memerlukan kehadiran objek dinamakan kata kerja aktif tak transitif.

Kerjakan latihan berikut!
  1. Tulislah lima kalimat yang kata kerjanya berimbuhan me- dari bacaan di atas!
  2. Termasuk kata kerja aktif transitif atau tak transitifkah kata-kata kerja berimbuhan me- dalam kalimat-kalimat yang kamu tulis? Beri keterangan di belakang kalimat, seperti contoh di atas!
  3. Bacakan hasil pekerjaanmu!

Cara membuat ringkasan

Kamu sering membuat ringkasan, bukan? Apa yang kamu ketahui tentang ringkasan? Ringkasan adalah penyajian suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Dengan kata lain, ringkasan adalah suatu bentuk penyajian yang singkat dari suatu karangan asli.
Dalam membuat ringkasan, hendaknya kamu tetap mempertahankan urutan isi. Penulis ringkasan juga harus berbicara dalam suara pengarang asli. Oleh sebab itu, tidak boleh memulai ringkasan dengan mengatakan, “Dalam karangan ini pengarang berkata ...”, dan sebagainya. Jadi, kamu harus langsung membuat ringkasannya.
Tujuan membuat ringkasan adalah untuk memahami dan mengetahui isi sebuah karangan. Untuk dapat membuat ringkasan, hendaknya kita membaca karangan yang
akan diringkas dengan cermat.
Adapun cara membuat ringkasan adalah sebagai berikut.
1. Membaca naskah asli seluruhnya secara berulang-ulang.
2. Mencatat gagasan-gagasan utama.
3. Menyusun ringkasan berdasarkan gagasan-gagasan utama tersebut.
4. Memperhatikan ketentuan-ketentuan tambahan sebagai berikut.
  • Ringkasan hendaknya disusun dalam kalimat tunggal dan hindari kalimat majemuk.
  • Buang semua keterangan (jika mungkin).
  • Pertahankan susunan gagasan asli.

Cara menentukan latar atau tempat dalam sebuah cerita

Mendengarkan Cerita dan menentukan Latar - Pada pelajaran ini kamu akan belajar menentukan latar cerita. Cerita pastilah berlangsung atau terjadi di suatu tempat, pada suatu waktu, dan dalam suasana tertentu.
Segala keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita itulah yang dinamakan latar.
Latar dibedakan atas latar waktu dan latar tempat. Latar waktu adalah zaman terjadinya peristiwa, dapat juga waktu penceritaan. Sedangkan latar tempat adalah tempat peristiwa berlangsung.
Sekarang, coba simak penggalan cerita di bawah ini!

Layang-layang Sakti

.........................................................
Sore itu, saat anak-anak pulang sekolah, lapangan semakin ramai. Kabarnya, ada anak bernama Sandi dari desa tetangga yang menantang Badu adu layang-layang.
Sandi datang bersama beberapa temannya. Ia segera menghampiri Badu yang sudah lama menunggu.
”Sudah siap belum?” tanya Badu.
”Aku ingin sekali tahu, sesakti apa sih, layang-layangmu,” kata Sandi sombong.
”Kalau begitu, ayo kita bertanding. Kupikir kau tidak jadi datang karena takut,” ejekan Badu.
Sandi dan Badu dibantu teman-temannya untuk menerbangkan layang-layang.
Satu orang memegang gulungan benang, satu orang lagi memegang layang-layang.
.........................................................
                                                                               Oleh: Rudy Irawan

Dari penggalan cerita itu dapat diketahui bahwa peristiwa Sandi menantang Badu adu layang-layang terjadi pada suatu sore yang cerah di lapangan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Latar waktu peristiwa Sandi menantang Badu adu layang-layang adalah pada suatu sore yang cerah. Hal ini tersurat dalam kalimat pertama penggalan cerita tersebut.
Latar tempatnya adalah lapangan di lingkungan pedesaan. Hal ini dapat diketahui dari kalimat pertama dan kedua penggalan cerita tersebut yang berbunyi, “Sore itu, saat anak-anak pulang sekolah, lapangan semakin ramai. Kabarnya, ada anak bernama Sandi dari desa tetangga yang menantang Badu adu layang-layang.”

Baca Juga : Menyimak Pesan atau Informasi

Menyimak Pesan Atau Informasi

Setiap hari kamu memperoleh informasi dari berbagai media, seperti radio, televisi, dan koran. Sudah biasakah kamu menyampaikan informasi yang kamu ketahui kepada orang lain? Jika belum,  biasakanlah! Hal ini akan dapat melatih keterampilanmu dalam berbicara. Adapun cara menyampaikan pesan/informasi sebagai berikut.
  1. Ingat-ingatlah pokok-pokok informasi yang hendak kamu sampaikan.
  2. Sampaikan informasi itu kepada orang lain dengan runtut, baik, dan benar. Runtut, artinya informasi yang disampaikan urut dari awal sampai akhir dan antarinformasi saling berhubungan.
  3. Informasi diucapkan dengan jelas dan dengan nada yang meyakinkan.
Baca Juga : Contoh Kalimat Simple Present Tense

Contoh penyampaian informasi/pesan dari berita yang disimak:
Berita:


Pesan yang disampaikan Rina dari berita di atas sebagai berikut.
  • Hobi artinya kegiatan yang dilakukan pada waktu senggang.
  • Hobi ada yang dilakukan sendiri, ada pula yang harus dilakukan dalam kelompok.
  • Hobi yang dilakukan sendiri, misalnya membaca, menulis, menggambar, menyanyi, dan main piano.
  • Hobi yang dilakukan dalam kelompok, misalnya sepak bola, dan voli.